CERITA PERANAP : PENGHULU TIGA LORONG

Peranap adalah salah satu kecamatan di Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Kecamatan ini juga terkenal dengan sebutan Luhak Tiga Lorong. Disebut demikian, karena pada masa kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Pekan Tua, Raja Indragiri yang ke-16, Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 M.), mengangkat tiga orang bersaudara menjadi Penghulu di tiga wilayah di Indragiri Hulu. Ketiga orang bersaudara tersebut diangkat menjadi Penghulu, karena mereka berhasil menumpas kesewenang-wenangan Datuk Dobalang yang berkuasa di negeri Sibuai Tinggi yang masih wilayah Kerajaan Indragiri. Untuk mengetahui kisah bagaimana Tiga Bersaudara tersebut mengalahkan Datuk Dobalang, ikuti kisahnya dalam Penghulu Tiga Lorong.Read More »

Cerita Rakyat melayu : Maligai Keloyang, Asal Usul Nama Kelayang

Kelayang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Dulu, Kelayang adalah nama sebuah desa yang dikenal dengan Keloyang, sedangkan Keloyang berasal dari Kolam Loyang.

Pada suatu masa, Kerajaan Indragiri mengalami zaman keemasannya. Ibukota kerajaan yang menjadi pusat pemerintahan berada di Japura. Semula Japura bernama Rajapura. Rakyat Indragiri hidup dengan sejahtera, tenteram, dan damai. Para datuk memimpin dengan baik dan menjadi teladan bagi seluruh penduduk negeri.

Suatu hari, salah seorang datuk yang bernama Datuk Sakti, pergi menghiliri Sungai Indragiri. Saat itu Sungai Indragiri masih bernama Sungai Keruh. Datuk Sakti ingin melihat kehidupan rakyatnya yang hidup di sepanjang sungai tersebut.

 
Menjelang sore, Datuk Sakti menaiki sebuah tebing untuk mencari tempat beristirahat. Datuk Sakti kemudian memasuki hutan di dekat sungai. Sampailah dia di tepi sebuah kolam. Air kolam itu sangat jernih, tenang, dan cemerlang bak loyang. Ketika Datuk Sakti sedang duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sekumpulan wanita cantik yang terbang turun dari angkasa. Datuk Sakti terperanjat bukan alang kepalang. “Amboi, elok sangat gadis-gadis itu. Apakah saya ini mimpi?” gumam Datuk Sakti sambil mengusap-usap matanya. “Ah, ini bukan mimpi,” ia gumam lagi untuk meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya itu benar-benar nyata. Ternyata benar, apa yang dilihatnya sungguhlah nyata.
 
Dari balik pohon Datuk Sakti menyaksikan para bidadari itu melepas pakaian mereka yang indah, dan meletakkannya di pinggir kolam. “Aduhai, sungguh mempesona tubuh para bidadari itu,” ucap Datuk Sakti kagum.
 
Para bidadari itu kemudian mandi dengan riang gembira, sambil bercanda dan bernyanyi. Suara mereka merdu bak buluh perindu, menghanyutkan hati bagi siapa saja yang mendengar. Air kolam berkecipak berkilauan, memantulkan sinar matahari sore yang berwarna kuning keemasan.
 
Menjelang senja tiba, usailah para bidadari mandi. Mereka mengenakan pakaiannya kembali, dan secepat kilat terbang ke angkasa. Datuk Sakti yang terpukau segera tersadar. “Alangkah bahagianya kalau aku memiliki istri salah satu bidadari itu,” pikir Datuk Sakti.
 
Datuk Sakti termenung, memikirkan cara menangkap salah satu bidadari tersebut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Senja itu adalah malam bulan purnama penuh, tentulah pada purnama berikutnya para bidadari akan datang lagi. Sepurnama itu Datuk Sakti terus berdoa. “Doa akan merubah retak tangan yang telah digariskan Tuhan,” pikir Datuk Sakti. Dia puasa tujuh hari, mandi limau tujuh pagi tujuh petang, untuk membersihkan dirinya lahir batin.
 
Pada purnama berikutnya, Datuk Sakti bergegas pergi kembali ke Kolam Loyang tempat para bidadari mandi. Dia bersembunyi di balik semak yang rapat. Dia sangat berhati-hati sekali jangan sampai ketahuan oleh bidadari tersebut. “Wah, aku harus berhati-hati. Jangan sampai ketahuan oleh mereka. Kalau mereka tahu, hancurlah harapanku selama ini,” katanya bertekad dalam hati. Benarlah! Menjelang sore, langit kemilau oleh cahaya terang yang mengiringi kedatangan para bidadari. Sebagaimana biasa, mereka menanggalkan pakaian dan mencebur ke dalam kolam, bersuka ria. Tengah para bidadari berkecipak-kecipung di air, Datuk Sakti diam-diam mengambil salah satu selendang yang ada di dekatnya.
 
Setelah senja, para bidadari tersebut mengenakan kembali pakaiannya. Tetapi, ada satu bidadari yang tidak menemukan selendangnya. Bidadari-bidadari lain tidak dapat menolongnya. Mereka harus kembali sebelum malam turun. Bidadari yang kehilangan selendang itu terpaksa mereka tinggalkan. Bidadari itu pun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya. Tangisannya menusuk kalbu siapa saja yang mendengarnya.
 
Datuk Sakti keluar dari persembunyiannya, dan mendekati bidadari malang tersebut. “Wahai Bidadari cantik, ada apa gerangan kamu menangis?”sapa Datuk Sakti. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang saya, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Bidadari itu.
 
Datuk Sakti mengeluarkan selendang itu dari balik punggungnya, lalu berkata, “Aku akan mengembalikan selendang kamu tetapi dengan syarat, kamu bersedia menjadi istriku.” Dengan senyum yang tulus, sang Bidadari menjawab, “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula untuk tidak menceritakan asal-asulku dan peristiwa ini kepada orang lain. Jika Tuan melanggar janji, berarti kita akan bercerai.” Syarat yang diajukan sang Bidadari sangatlah ringan bagi Datuk Sakti. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu,” jawab Datuk Sakti. Lalu, Datuk Sakti membawa Bidadari itu ke rumahnya.
 
Masa berlalu. Mereka menikah dan hidup berbahagia. Tiada berapa lama, bidadari itu melahirkan anak laki-laki, disusul anak perempuan. Anak-anak itu tumbuh sehat, cerdas, dan rupawan. Datuk Sakti melatih anak laki-lakinya hingga tangkas bersilat, berburu, berniaga, dan berlayar. Sang Bidadari mengajari anak perempuannya menenun, memasak, merawat rumah, dan bertanam padi.
 
Keluarga Datuk Sakti terlihat sempurna. Semua orang kagum dan memuji kecantikan paras, keelokan perilaku, serta kepandaian sang Bidadari. Datuk Sakti sangat bangga akan istrinya, hingga lupa dengan janjinya pada sang Bidadari. Tanpa sadar, dia bercerita bahwa istrinya adalah bidadari dari kahyangan. Dia menangkapnya saat mandi di Kolam Loyang.
 
Setelah mendengar cerita Datuk Sakti, pada setiap malam purnama orang-orang berduyun-duyun ke Kolam Loyang untuk berburu bidadari. Mereka bersaing, berebut, bahkan saling bertikai untuk mendapatkan semak lebat yang terdekat dengan kolam. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa, karena semenjak ada salah satu bidadari kehilangan selendang, para bidadari yang lain tidak berani lagi mandi di Kolam Loyang.
 
Mengetahui Datuk Sakti telah melanggar janjinya, sang Bidadari sangat sedih dan marah. Sambil menangis dia mengambil selendangnya. “Karena rahasia kita telah Kakanda bongkar, aku akan kembali ke langit. Tolong pelihara putra-putri kita, agar menjadi orang yang berguna. Selamat tinggal,” sang Bidadari pamit, lalu terbang ke angkasa. Sejak saat itu, sang Bidadari tidak pernah lagi kembali ke Kolam Loyang mand-mandi.
 
Datuk Sakti sangat sedih dan menyesal, tetapi nasi telah menjadi bubur. Akhirnya dia menerima takdirnya dan membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kedua anak itu tumbuh menjadi jejaka dan gadis yang rupawan, pandai, dan baik budi. Semua orang menyukai mereka. Pada setiap malam purnama, Datuk Sakti dan putra-putrinya pergi ke Kolam Loyang untuk mengenang ibundanya. Mereka juga berdoa agar sang Bidadari bahagia di kahyangan.
 
Sejak peristiwa tersebut, desa tempat mereka hidup itu kemudian mereka beri nama Keloyang, yaitu diambil dari kata Kolam Loyang. Saat ini, desa tersebut telah berkembang dan dikenal dengan nama Kelayang, salah satu nama kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau, Indonesia. Kelayang dibentuk menjadi kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 tahun 1995. Di samping itu, juga terdapat sebuah desa yang bernama Kelayang di wilayah Kecamatan Kelayang.
Hingga kini, pemerintah daerah Indragiri Hulu telah mengeluarkan kebijakan sebagai upaya untuk menghargai dan melestarikan Kolam Loyang di Kecamatan Kelayang, karena Kolam Loyang ini merupakan icon kebudayaan masyarakat di daerah itu.

cerita rakyat melayu-si jangoi

Jangoi adalah julukan untuk anak yang nakal, yang suka mengusik orang. Apalagi mengusik anak dara, tak perduli pagi, siang, petang ataupun malam. Di saat orang menjaring, Jangoi pun suka merusak jaring orang. Alkisah, adaaaa saja yang dikerjakan atau diganggunya.

Pernah juga orang-orang kampong merasa geram dan marah kepada Jangoi, hingga suatu ketika Jangoi ditangkap dan diikat di sebuah pohon. Tetapi entah bagaimana, eeh! Tahu-tahu si Jangoi lepas dari ikatan dan menghilang. Orang kampong pun jadi heran. Padahal ikatan di pohon itu begitu kuat, tapi ternyata si Jangoi dapat melepaskan diri.

Untuk beberapa hari, sejak Jangoi di tangkap dan menghilang,? keadaan kampong agak tenang. Tak pernah terdengar lagi soal si Jangoi yang suka mengganggu orang. Tapi ketentraman itu tidak lama. Rupanya entah dari mana, tahu-tahu si Jangoi muncul lagi. Kali ini kelakuannya lebih jahat. Tidak hanya suka mengganggu ataupun mengusik, tapi sengaja mengejar-ngejar anak-anak perempuan ataupun anak dara yang mau pergi atau pulang mengaji. Sehingga sebagian anak-anak dara ataupun anak-anak takut pergi untuk mengaji.

Malahan suatu ketika, pada suatu malam Jangoi bersembunyi pada sebuah pohon yang rimbun, ia memakai pakaian putih, layaknya mayat yang baru keluar dari lobang kubur. Entah mukena siapa yang dicurinya. Begitu orang-orang pulang dari surau dan melewati pokok rimbun itu, Jangoi pun keluar dengan melompat-lompat layaknya sebagai lembaga atau hantu. Maka berhamburan berlari-lari sambil berteriak-teriak ketakutan orang-orang itu, khususnya orang perempuan dan anak-anak. Penduduk setempat sangat marah! Maka dicarilah akal untuk menangkap si Jangoi. Orang-orang kampong sengaja mengintai dan mencari kelengahan Jangoi.

Alhasil, pada suatu ketika, dapatlah si Jangoi ditangkap oleh orang kampong. Beramai-ramai orang kampong itu mengarak si Jangoi. Kedua tangannya diikat ke belakang. Sesampainya di sebuah pohon yang besar, si Jangoi diikat. Sekali ini, si Jangoi tidak ditinggal begitu saja. Melainkan dijaga oleh orang dewasa. Jaganya bergantian. Pokoknya, istilah kata orang, tak boleh leke.

“Huh! Baru kau rasa sekarang, ya? Kau tak akan dapat lepas lagi, Jangoi. Kami jaga engkau berganti-ganti,” kata orang yang menjaganya.
Apa jawab si Jangoi?
“Kalau ada orang menjaga enak juga. Engkau orang jadi pengawal aku, si Jangoi!” Ejek Jangoi.
“Kurang ajar! Dasar anak bertuah!” kata si penjaganya dengan marah.
“Aku diikat, engkau orang menjaga. Engkau orang juga yang penat!” Ejek Jangoi lagi. Naik pitam juga orang yang menjaganya melihat perangai si Jangoi.

“Hei, dengar! Budak macam kau ni tak perlu dilayan!” Kata si Penjaganya dengan geram.
“Tak, layan sudah! Akupun tak rugi!” Jawab si Jangoi sambil ketawa-ketawa.
“Iiih ! Kalau bukan masih budak lagi, sudah aku lumat-lumatkan, engkau ni!” Begitu geramnya di Penjaga itu melihat perangai Jangoi. Adaaaa saja jawabnya. Maka si Penjaga itupun tak hendak melayan si Jangoi lagi.

Memang sungguh luar biasa, istilah kata orang, tak boleh leke. Padahal orang yang menjaganya betul-betul dan dijaga secara berganti-ganti. Tapi dalam sekelip mata, si Jangoi boleh hilang dari pokok tempat ia diikat. Para penjaga kalang-kabut mencari-cari, sampai kemerata tempat. Tapi si Jangoi hilang macam di telan bumi.

Akhirnya, orang-orang kampong jadi putus asa. Mereka tak tahu lagi bagaimana untuk mencari dan menangkap si Jangoi. Orang-orang kampong sangat khawatir kalau-kalau si Jangoi muncul lagi dan buat perangai yang lebih teruk. Dan betul saja, tak sampai sepekan si Jangoi pun muncul. Sekali ini bukan anak dara, anak-anak ataupun orang perempuan, melainkan orang-orang tua pun diusik dan ditakuti-takuti. Layaknya jadi macam orang minyak!

Suasana kampong betul-betul kelam-kabut dibuat ulah si Jangoi!. Maka akhirnya orang kampong berkumpul dengan dipimpin oleh Orang Tua di kampong itu.? Mereka bermusyawarah untuk mencari jalan keluar yang terbaik. “Wahai orang-orang kampong, nampaknya perangai si Jangoi, tak boleh kita diamkan begitu saja. Si Jangoi telah membuat kerusuhan di kampong kita ini!” kata? Orang Tua itu.

“Kalau dapat sekali ini, kita rejam saja, Tok!” ujar salah seorang penduduk.
“Tapi si Jangoi itu masih budak-budak? lagi, takkanlah hendak direjam pula!” kata penduduk yang lain.
“Memang masih budak-budak, tapi kelakuannya sudah melampau batas! Sudah membuat kampong kita ini kacau balau!” Kata salah seorang penduduk yang lainnya pula.
“Yang penting kita dapat menangkap dahulu budak yang bernama Jangoi itu. Bagaimana dan apa yang patutu kita buat, biarlah nanti kalau si Jangoi sudah tertangkap. Kita jangan biarkan lagi si Jangoi itu buat kerusuhan di kampong kita ini. Itu yang penting!” akhirnya Orang Tua yang memimpin musyawarah itu berkata.

Banyak orang kampong yang memburu dan hendak menangkap si Jangoi. Pada hari petang menjelang maghrib, si Jangoi mulai dengan perangainya mengusik orang yang akan pergi sembahyang. Maka serentak orang-orang kampong yang sudah bersiap sedia, langsung mengejar Jangoi.
Maka terjadilah kejar-mengejar, walaupun ramai orang yang memburunya, tak mudah untuk menangkap Jangoi. Jangoi pandai menggelecek, lari sana, sembunyi di sini. Badannya pun macam belut, licin. Payah di tangkap. Tetapi dengan usaha yang gigih dari orang-orang kampong, akhirnya Jangoi dapat tertangkap. Begitu jangoi dapat tertangkap, langsung diikat serta diapit oleh beberapa orang dewasa sehingga tak dapat lari. Langsung dibawa kehadapan Orang Tua.
“Hei Jangoi ! Aku hendak bertanya kepadamu. Jawablah dengan jujur ! Apa sebenarnya maksudmu suka mengganggu orang-orang kampong, hingga kelakuanmu seperti orang minyak!” Tanya Orang Tua. Tapi si Jangoi tidak menjawab, ia hanya tertawa-tawa saja. “Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab. Tapi beritahukan kepadaku, ilmu apa yang kamu pakai sehingga dapat melepaskan ikatan dan menghilangkan diri ,” Tanya lagi si Orang Tua dengan sabar.

Ternyata si Jangoi masih belum ingin menjawab, ia masih diam dan hanya tersenyum-senyum. Orang Tua itu pun hampir habis kesabarannya, tapi masih juga ditahannya. Lalu Orang Tua itu berkata lagi, “Sekarang jelaskan apa syaratnya supaya kamu tidak boleh melepaskan diri dan menghilang lagi!”
“Benarkah orang-orang kampong ingin menyingkirkan aku dari kampong ini?” Tiba-tiba si Jangoi bicara.
“Kamu budak yang sangat nakal, yang hilang sama sekali dari kampong ini!” ujar seorang penduduk dengan geram.
“Kalau kau tak mau memberi tahu syaratnya, tubuhmu akan kami bakar hidup-hidup!” kata orang? yang lainnya pula. Mendengar tubuhnya mau dibakar, si Jangoi ketakutan. “Jangan, jangan dibakar. Aku tidak akan mati, tapi akan sangat menderita ,” Ujar si Jangoi ketakutan.
“Kalau begitu katakanlah syaratnya!” Ujar Orang Tua di kampong itu.
“Baiklah! Jika orang-orang kampong sangat benci padaku, dan ingin melenyapkan aku, mudah saja. Syaratnya, pisahkan tubuhku menjadi tiga bahagian. Kepala, badan dan kaki.” Jelas Jangoi menerangkan.

Mendengar penjelasan dari si Jangoi, orang-orang kampong sangat terkejut. Terumanya si Orang Tua. Sungguhnya itu hanya ingin menakuti-nakuti. Tak akan tergamak atau sampai hati mereka untuk membakar si Jangoi hidup-hidup, apalagi harus memenggal tubuh si Jangoi menjadi tiga bahagian, kepala,badan serta kaki.
Melihat orang-orang kampong sangat terkejut dan sepertinya tak sampai hati untuk memenggal dirinya menjadi tiga bahagian, si Jangoi pun berkata, “Kenapa orang-orang menjadi ketakutan dan tak sampai hati untuk memenggal aku? Kalau tubuhku tidak dipisahkan, aku tidak akan mati dan aku akan terus mengacau!” Ujar si Jangoi.

Kata-katanya, betul-betul membuat orang kampong serba salah. Kalau tidak melakukan seperti apa kata si Jangoi. Kampong tidak akan aman. Tapi kalau melakukan syarat yang dikatakan oleh Jangoi, mereka juga tak sampai hati. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya si Jangoi di bunuh. Namun orang kampong tidak mengikut arahannya dari Jangoi untuk memisahkan ketiga bahagian tubuhnya.

Akhirnya, tak sampai seminggu si Jangoi bangkit dari kuburnya, dan hidup kembali, serta mengacau orang kampong lebih dahsyat. Si Jangoi betul-betul jadi macam orang minyak. Terpaksalah orang kampong mencari orang yang berilmu, orang pandai, untuk menangkap Jangoi. Setelah berusaha dengan keras, akhirnya si Jangoi dapat tertangkap.

“Wahai orang kampong sekaliannya, kita memang harus melakukan seperti arahan yang diberikan oleh si jangoi ini. Sebab itulah petuahnya, jika kita tidak melakukannya. Si Jangoi akan terus dengan perangkainya. Bahkan semakin hari, semakin jahat. Memang kita tak sampai hati, sebab si jangoi masih budak lagi. Demi kepentingan orang banyak, terpaksalah kita harus mengorbankan si Jangoi!” Demikian kata orang pandai itu dengan panjang lebar.

Akhirnya dengan perasaan serba salah, orang-orang kampongpun melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Jangoi. Konon, kepala Jangoi di tanam di Pulau Los, badannya di tanam di Pulau Penyengat, sedangkan kakinya di tanam di Pulau Paku. Memang sungguh ajaib!

Sejak kejadian itu si Jangoi memang tak pernah muncul lagi. Kampong itupun kembali tentram seperti semula.
Oleh sebab itu, kalau ada anak nakal, selalu disebut orang,
Huh! Kelaku macam si Jangoi!”

cerita rakyat melayu – putra lokan

Pada zaman dahulu di hulu sungai Bintan memerintah seorang raja yang adil. Rakyatnya makmur dan sejahtera. Akan tetapi, sayangnya, raja tidak memiliki keturunan meskipun sudah belasan tahun menikah. Pada suatu hari permaisuri dan raja pergi berkelah di muara sungai dan permaisurinya yang ditemani dayang-dayang mandi di sungai. Entah apa sebabnya tiba-tiba permaisuri terjatuh dan pingsan.

Raja sangat resah melihata keadaan permaisurinya. Dipanggilnya tabib, tetapi tabib tidak mengobati karena permaisuri sedang berbadan dua. Berita ini sangat menggembirakan raja dan permaisuri serta seluruh rakyatnya. Ketika melahirkan, bepata terkejutnya raja dan permaisuri karena anak yang dilahirkan berupa lokan. Peristiwa ini merupakan aib bagi raja. Raja bingung dan malu. Ada saat kebingungan itulah bendaraha kerajaan yang menyimpan niat jahat pada raja mengahsut raja agar permaisuri dan lokan dibuang ke dalam hutan yang jauh dari kerjaan.

Sesampai di hutan, permaisuri merasa sangat masyghul, takut dan bingung. Dalam kebingan itu pula dia bertemu dengan nenek Kebayan. Di rumah nenek Kebayan yang sempit itulah permaisuri menghabiskan waktu bersama dengan lokan anaknya.

Setelah 18 tahun di hutan, rupanya Lokan berkembang sesuai usianya. Pada malam bulan purnama, muncullah seorang putera dari dalam kolam. Betapa terkejutnya permaisuri dan dia heran siapakah gerangan pemuda tampan ini. Akan tetapi, putera lokan langsung mengatakan bahwa dia adalah putra permaisuri yang muncul dari dalam lokan. Betapa haru dan bahagianya permaisuri.

Tak lama kemudian, mereka berdua, yaitu permaisuri dan putranya berangkat ke kerajaan. Mereka ingin bertemu dengan raja dan melihat-lihat keadaan itu kota kerajaan. Mereka tinggal di pinggir kota dan Putra Lokan menyamar sebagai pedagang kelliling sehingga agak bebas memasuki lingkungan istana. Dari penyamaran inilah diketahui bahwa raja telah ditawan dan ditahan oleh bendahara dan pengikutnya di dalam perigi beracun.

Hal ini diceritakannya pada ibundanya. Lalau mereka berencana melakukan penyerangan terhadap bendahara. Pada saat yang tepat, Putra Lokan melakukan penyerangan dan menang. Kemudian dapat membebaskan raja dari dalam perigi beracun. Raja pun merasa sangat berutang budi kepada Putra Lokan.

Kemudan raja bertanya, “Siapakah pemuda sebenarnya?” Putra Lokan menjawab “Biarlah nanti ibunda saya yang menjawab, sebentar lagi ibunda akan datang menghadap baginda”. Tak lama kemudian muncullah ibunda Putra Lokan dan tahulah baginda bahwa pemuda itu adalah putranya sendiri.

RECOUNT TEXT

  • Orientation tells who was involved, what happened, where the events took place, and when it happened. (“Orientation” menceritakan siapa saja yang terlibat dalam cerita, apa yang terjadi, di mana tempat peristiwa terjadi, dan kapan terjadi peristiwanya)
  • Events tell what happened and in what sequence. (“Event” menceritakan apa yang terjadi (lagi) dan menceritakan urutan ceritanya)

Reorientation consists of optional-closure of events/ending. (“Reorientation” berisi penutup cerita / akhir cerita

EXAMPLE :

My Adolescence

 
I had my adolescence when I was thirteen.
It started with acne that showed up on my face. It was very annoying. It lowered my self-esteem and I was embarrassed to come out of my house and play with friends.
Fortunately, my Mum gave me a good medicine. In three weeks, the acnes started to vanish although those showed some black spots in my face.
That was my bad experience with adolescence, though there were still lots of good experience too.
 
My Holiday in Bali
 
ditulis oleh Annisa Aulia Saharani
 
When I was 2nd grade of senior high school, my friends and I went to Bali. We were there for three days. I had many impressive experiences during the vacation.
 
 
First day, we visited Sanur Beach in the morning. We saw the beautiful sunrise together. It was a great scenery. Then, we checked in to the hotel. After prepared our selves, we went to Tanah Lot. We met so many other tourists there. They were not only domestic but also foreign tourists.
 
 
Second day, we enjoyed the day on Tanjung Benoa beach. We played so many water sports such as banana boat, jetsky, speedboat etc. We also went to Penyu island to see many unique animals. They were turtles, snakes, and sea birds. We were very happy. In the afternoon, we went to Kuta Beach to see the amazing sunset and enjoyed the beautiful wave.
 
 
The last day, we spent our time in Sangeh. We could enjoy the green and shady forest. There were so many monkies. They were so tame but sometimes they could be naughty. We could make a close interaction with them. After that, we went to Sukowati market for shopping. That was my lovely time. I bought some Bali T-Shirt and souvenirs.
 
 
In the evening, we had to check out from the hotel. We went back home bringing so many amazing memories of Bali.
 
A Beautiful Day at Jogja
ditulis oleh Arsianti Dewi
 
Last week, my friends and I went to Jogja. We visited many places.
First, we visited Parangtritis beach. The sun shone brightly and the scenery was very beautiful there. We felt the wind blew across to us. We also saw a lot of people in that beach. There werw many birds flew in the sky. Also, there were many sellers who sold many kinds of souvenirs. Second, we visited Gembira Loka Zoo. We saw many kinds of animals there such as monkeys, tigers, crocodiles, snakes, etc. We looked around in that Zoo, and also took pictures of those animals. Then, we felt hungry, so we went to a restaurant. As soon as we finished our lunc, we decided to go home.
 
For me, that was a beautiful day. we really enjoyed it, and I hope I could visit Jogja again.
 
My First Experience to Ride Motorcycle
ditulis oleh Resdwitarini
 
One day, when I was ten years old, my father bought an old motorcycle. That was ” Honda 75″. I think it was small light object and easy to ride it. I persuaded my father to teach me to ride ” Honda 75 “. Firstly, my father refused my request and promised that he would teach me two or three years later, but I still whimpered. Finally, my father surrendered and promised to teach me.
He began to teach me riding the motorcycle around a field in my village. My father was very patient to give me some directions. I was very happy when I realized my ability to ride a motorcycle. ” Yes, I can “.
One day later, when I was alone at home, I intended to try my riding ability. So, myself tried bravely. All ran fluently in the beginning, but when I was going back to my home and I must passed through a narrow slippery street, I got nervous. I lost my control and I fell to the ditch.
After that, I told my father about the last accident. I imagined my father would be angry and never let me ride again. But the reality is exactly on the contrary, my father was very proud of me. He just gave me some advices and since that accident, I got my father’s permission to ride motorcycle.
 
A Page from A Girl’s Diary

ditulis oleh Pratama Lysa Hapsari

 
Tuesday, September 30th, 2008
 
 
It was takbiran night. It was also my birthday, and nothing happened. Or I had thought nothing would happen, but I was wrong.
 
 
That night, I was watching television with my family when I heard someone lit fireworks in my front yard. I peeped trough my window glass but could see nothing. It was very dark outside. Then I thought it had to be my cousins who lit the fireworks. Then I plopped down on my sofa again and tried to concentrate on the television since my mind raced with disappointment that no one gave something special on my birthday. I shrugged, it was almost the end of the day and I became pessimist. Five minutes later my mobile beeped. It was a text from my friend asking me to come out. Wondering what was going on, I grabbed my jacket and hurried to the front door. I was surprised to see her bring a bag full of firework and fire drills. Next I was surprised to see my other friend come out from the darkness. She brought a beautiful birthday cake on her hands. Oh my God! I shrieked. Then they gave the cake to me who was too stunned to say anything. I realized I was blushing furiously because my whole family was watching. Not to mention my neighbors too!
 

A plain day, or I thought it was before, turned out to be one of the greatest moment in my life. I didn’t even know how to describe what I felt. Happy was the simplest word.

 

descriptive text

Jatim Park

For people in East Java, Jatim Park may have been heard many times as it is one of the famous tourism object in East Java province. Jatim Park offers a recreation place as well as a study center.

Jatim Park is located at Jl. Kartika 2 Batu, East Java. To reach the location is not too difficult because the object is only 2, 5 kilos meters from Batu city. This Jatim Park tourism object is about 22 hectares width.

Visitor can enjoy at least 36 kinds of facilities which can attract them as well as give new knowledge. Just after the pass gate, the visitors will find an interesting view of ‘Galeri Nusantara’ area. This study offering continues to step on ‘Taman Sejarah’ area, which contains of miniature temple in East Java like Sumberawan temple, customhouse of Kiai Hasan Besari Ponorogo and Sumberawan Statue.

The other facility which is able to be enjoyed is ‘Agro Park’ area. It presents crop and rareness fruits, animal diorama which consists of unique animals that have been conserved, and supporting games like bowling, throw ball, scooter disco, etc

Jatim Park is suitable for family and school recreation. The recreation area sites offer precious tour and can used as alternative media of study.


The Eiffel Tower

The Eiffel Tower is an iron lattice tower located on the Champ de Mars in Paris. Built in 1889, it has become both a global icon of France and one of the most recognizable structures in the world. The tower is the tallest building in Paris and the most-visited paid monument in the world; millions of people ascend it every year. Named for its designer, engineer Gustave Eiffel, the tower was built as the entrance arch to the 1889 World’s Fair.

The tower stands 324 metres (1,063 ft) tall, about the same height as an 81-story building. Upon its completion, it surpassed the Washington Monument to assume the title of tallest man-made structure in the world, a title it held for 41 years, until the Chrysler Building in New York City was built in 1930; however, due to the addition in 1957 of the antenna, the tower is now taller than the Chrysler Building. Not including broadcast antennas, it is the second-tallest structure in France after the 2004 Millau Viaduct.

The tower has three levels for visitors. Tickets can be purchased to ascend, by stairs or lift, to the first and second levels. The walk to the first level is over 300 steps, as is the walk from the first to the second level. The third and highest level is accessible only by elevator. Both the first and second levels feature restaurants.

The tower has become the most prominent symbol of both Paris and France, often in the establishing shot of films set in the city.

MY HOUSE

 
I live in a small house. It has five rooms: there are two bedrooms, a living room, a bathroom, and a kitchen. Indeed it is a small house; but I like living in here for wasting my spare time.
When the door is open, I can see the living room. It is so small with only three chairs and a table, nothing else. I prefer reading a novel in this room.
 
My bedroom is in the left side of the living room. In this room there is a night table next to the bed, a TV, a radio, and a computer. When being bored of reading, I usually play online games, chat with my friends via Facebook and so on. 
 
Next to my bedroom is my mother’s. I do not know what is inside because I never come in to see it. In the right side of the living room there is the kitchen. In the kitchen I have everything I need when I get hungry. It is very pleasure when my mother cooks, the smell fills my whole house.
 
I know it is a very small house; but it is the best place I have ever seen.
 
 
MY FAMILY
 
My family has four members: those are I, my sister, and parents of course.

My mother is 47 years old. Her name’s Anisa. She’s thin-faced and she’s got long, blond hair and beautiful green eyes. She is still slim because she always tries to stay in shape. She is very good-looking, always well-dressed and elegant.

My father, Lukman, is 5 years older than my mother. He is 52. In spite of his age he’s still black-haired, with several grey hairs. He has bright blue eyes. He is quite tall, but a bit shorter than me. He’s very hard-working. Besides that he is working in a travel company. He can even make a dinner when my mother is outside. His cooking and his meals are always very tasty as well as my mothers’.

Finally, my sister Nadina. She is 22. She is also red-haired and green-eyed. She has long wavy hair and freckles. She is definitely shorter than me. She is rather introverted. But she is very sensible, smart and co-operative. Right now she is studying English and also knows Arabic and Mandarin. I want to be so smart as she is.

They all, except me, speak Sundanese very well, because we were living in Bandung for 5 years. My sister have been going to primary school there. Unfortunately I was only 3 when we were leaving to Jakarta, so I can’t speak Sundanese. Now we are happily living in Jakarta.

 
 
MY SPHYNX CAT
 
descriptive text examples
Sphynx Cats

My Sphynx cat is the only pet I have. He has a little hair but is not totally hairless as he has a peach fuzz over much of his body. His coat is often a warm chamois. My Sphynx has a normal cat proportion.

 
I like his tail although my mom say that it is like a rats tail. I love his usual color varieties including, tortoiseshell, chocolate, black, blue, lilac, chocolate etc. He is really an amazing cat. Believe it or not, he is very intelligent cat. He can respond my voice commands.

He is really funny as well as my friends get a joke. I love him so much as I love my mother.

narrative text

 
Disebutkan bahwa A narrative text is an imaginative story to entertain people (teks narasi adalah cerita imaginatif yang bertujuan menghibur orang). 
 

Jika melihat pada kamus bahasa Inggris, secara harfiah narrative bermakna (1) a spoken or written account of connected events; a story. (2) the narrated part of a literary work, as distinct from dialogue. (3) the practice or art of narration. 

 
 

(Narrative bermakna : 1. sebuah cerita baik terucap atau tertulis tentang peristiwa-peristiwa yang berhubungan. 2. bagian yang diceritakan dalam sebuah karya sastra, berbeda dengan dialog. 3. Praktik atau seni bercerita)

 
Jika disimpulkan, maka sebuah narrative text adalah teks yang berisi sebuah cerita baik tertulis ataupun tidak tertulis dan terdapat rangkaian peristiwa yang saling terhubung.

 

Generic Structure dari Narrative Text

Bagi sobat yang masih duduk di bangku sekolah tingkat menengah, penjelasan mengenai narrative texts tak usah sulit-sulit ya.. Intinya, narrative text ini mempunyai struktur / susunan seperti di bawah ini : 

  • Orientation : It is about the opening paragraph where the characters of the story are introduced.(berisi pengenalan tokoh, tempat dan waktu terjadinya cerita (siapa atau apa, kapan dan dimana) 

  • Complication : Where the problems in the story developed. (Permasalahan muncul / mulai terjadi dan berkembang)
  • Resolution : Where the problems in the story is solved. Masalah selesai, — secara baik “happy ending” ataupun buruk “bad ending”.
 
Kadangkala susunan (generic structure) narrative text bisa berisi: Orientation, Complication, Evaluation, Resolution dan Reorientation. Meski “Evaluation” dan “Reorientation” merupakan optional; bisa ditambahkan dan bisa tidak. Evaluation berisi penilaian/evaluasi terhadap jalannya cerita atau konflik. Sedangkan Reorientation berisi penyimpulan isi akhir cerita.

Jika sudah mahir membuat cerita narrative, susunannya bisa diubah-ubah kok, yang terpenting bagian-bagian di atas masih tetap ada dalam tulisan narrative sobat. 

Grammar Used dalam Narrative Text

Grammar (tata bahasa) yang sering muncul dalam membuat narrative text adalah:

Menggunakan tenses “Past”, baik simple, past perfect, past continuous, past perfect continuous, atau bisa saja past future continuous. (aturan ini bukan aturan wajib yang mutlak harus dipenuhi kok. Tidak percaya, tanyakan pada guru bahasa Inggris sobat)

Untuk lebih jelasnya, lihat contohnya di bawah ini :

Contoh Narrative Text (1)

 

Sincere Will Get a Great Return

 
 
 
Once upon a time, there was a kingdom named Auretto, all people lived peacefully there. One of them was Charlita, the king’s daughter who was assumed as the most beautiful and kindest Princess of Auretto.
One day, Charlita looked blue. Because of that her father got confused. “What’s the matter my beautiful daughter? Why are you so sad?” asked King Fernando. Charlita was just silent. She did not say anything.
Then, King Fernando decided to make a competition to cheer Charlita again. After that, the palace representative announce: “I will make a competition. The aim is to make my daughter, Princess Charlita to be happy and laugh again. Everyone who can do it, will get a prize. It will be held tomorrow when the sun rises. Sign: King Fernando.”
The following morning, everybody came to the palace, tried to give their best performance. They seemed happy and laugh, but not for Princess Charlita. She was just silent and still looked sad.
King Fernando started to give up. No one amused his daughter. Then, there came a young handsome man. “Excuse me King Fernando. I would like to join your competition. But, would you mind if I took Princess Charlita for a walk?” said the young man gently. “As long as you make my daughter be happy again, it will totally alright.” said King Fernando. The young handsome man took Princess Charlita for a walk in a beautiful blue lake with a green forest around it. Princess Charlita smiled and looked happy after that. Every body looked happy, too. “I know why are you so my beautiful daughter. Now, I promise I will environment green. I regret for always destroying it. Finally, the environment around the kingdom became so beautiful and green, full of plants. Then, the young handsome man got a prize from the king. “I will marry you off my daughter.” said him. “That is the prize I promise for you. Thanks for keeping our environment well. Thanks for making my daughter happy again.”
 

Contoh Narrative Text (2)

 
The Legend of Rawa Pening
 
Once upon a time, there was a little poor boy came into a little village. He was very hungry and weak. He knocked at every door and asked for some food, but nobody cared about him. Nobody wanted to help the little boy.
 
Finally, a generous woman helped him. She gave him shelter and a meal. When the boy wanted to leave, this old woman gave him a “lesung”, a big wooden mortar for pounding rice. She reminded him, “please remember, if there is a flood you must save yourself. Use this “lesung” as a boat”. The “lesung” was happy and thanked the old woman.The little boy continued his journey. While he was passing through the village, he saw many people gathering on the field. The boy came closer and saw a stick stuck in the ground. People challenged each other to pull out that stick. Everybody tried, but nobody succeeded. “Can I try?” asked the little boy. The crowd laughed mockingly. The boy wanted to try his luck so he stepped forward and pulled out the stick. He could do it very easily. Everybody was dumbfounded.
 
Suddenly, from the hole left by stick, water spouted out. It did not stop until it flooded the village. And no one was saved from the water except the little boy and the generous old woman who gave him shelter and meal. As she told him, he used the “lesung” as a boat and picked up the old woman. The whole village became a huge lake. It is now known as Rawa Pening Lake in Salatiga, Central Java, Indonesia.
 
Snow White

Once upon a time there lived a little, named Snow White. She lived with her aunt and uncle because her parents were died.

One day she heard her aunt and uncle talking about leaving Snow White in the castle because they wanted to go to America and they didn’t have enough money to take Snow White with them.

Snow White didn’t want her uncle and aunt to do this. So she decided to run away. The next morning she run away from home when her aunt and uncle were having breakfast, she run away into the wood.

In the wood she felt very tired and hungry. Then she saw this cottage. She knocked but no one answered so she went inside and felt asleep

Meanwhile seven dwarfs were coming home from work. They went inside. There, they found Snow White woke up. She saw the dwarfs. The dwarfs said; “What is your name?”. Snow White said; “My name is Snow White”. One of the dwarfs said; “If you wish, you may live here with us”. Snow White told the whole story about her. Then Snow white ad the seven dwarfs lived happily ever after.

The Bear and Rabbit

Once upon a time, there lived a bear and a rabbit. The rabbit is a good shot. In contrary, the bear is always clumsy and could not use the arrow.

One day, the bear called over the rabbit and asked the rabbit to take his bow and arrows.
The rabbit was fearing to arouse the bear’s anger so he could not refuse it. He went with the bear and shot enough buffalo to satisfy the hungry family. Indeed he shot and killed so many that there were lots of meats left after.

However the bear did not want the rabbit to get any of the meat. The rabbit could not even taste the meat. The poor rabbit would have to go home hungry after his hard day’s work.

The bear was the father of five children. Fortunately, the youngest child was very kind to the rabbit. He was very hearty eater. The mother bear always gave him an extra large piece of meat but the youngest child did not eat it. He would take it outside with him and pretended to play ball with the meat. He kicked toward the rabbit’s house.When he got close to the door he would give the meat with such a great kick. The meat would fly into the rabbit’s house. In this way, the poor rabbit would get his meal.

The Legend of Toba Lake 

Once upon time, there was a handsome man. His name was Batara Guru Sahala. He liked fishing. One day, he caught a fish. He was surprised to find out that the fish could talk. The fish begged him to set it free.

Batara Guru could not bear it. He made the fish free. As soon as it was free, the fish changed into a very beautiful woman. She attracted Batara Guru so much. He felt in love with that fish-woman. The woman wanted to marry with him and said that Batara Guru had to keep the secret which she had been a fish. Batara Guru aggreed and promised that he would never tell anybody about it.

They were married happily. They had two daughters. One day Batara Guru got very angry with his daughter. He could not control his mad. He shouted angrily and got the word of fish to his daugters. The daughters were crying. They found their mother and talked her about it.

The mother was very annoyed. Batara Guru broke his promise. The mother was shouting angrily. Then the earth began to shake. Volcanoes started to erupt. The earth formed a very big hole. People believed that the big hole became a lake. Then this lake is known as Toba lake.

 
The Monkey and The Crocodile

One day there was a monkey. He wanted to cross a river. There he saw a crocodile so he asked the crocodile to take him across the other side of the river. The crocodile agree and told the monkey to jump on its back. Then the crocodile swam down the river with the monkey on his top.

Unluckily, the crocodile was very hungry, he stopped in the middle of the river and said to the monkey, “My father is very sick. He has to eat the heart of the monkey. So he will be healthy again.”

At the time, the monkey was in dangerous situation and he had to think hard. Then he had a good idea. He told the crocodile to swim back to the river bank. “What’s for?” asked the crocodile. “Because I don’t bring my heart,” said the monkey. “I left it under a tree, near some coconuts in the river bank.”
The crocodile agreed and turned around. He swam back to the bank of the river. As soon as they reached the river bank, the monkey jumped off the crocodile’s back. Then he climbed up to the top of a tree.

“Where is your heart?” asked the crocodile. “You are foolish,” said the monkey to the crocodile. “Now I am free and I have my heart.

 
The Smartest Parrot

Once upon time, a man had a wonderful parrot. There was no other parrot like it. The parrot could say every word, except one word. The parrot would not say the name of the place where it was born. The name of the place was Catano.

The man felt excited having the smartest parrot but he could not understand why the parrot would not say Catano. The man tried to teach the bird to say Catano however the bird kept not saying the word.

At the first, the man was very nice to the bird but then he got very angry. “You stupid bird!” pointed the man to the parrot. “Why can’t you say the word? Say Catano! Or I will kill you” the man said angrily. Although he tried hard to teach, the parrot would not say it. Then the man got so angry and shouted to the bird over and over; “Say Catano or I’ll kill you”. The bird kept not to say the word of Catano.

One day, after he had been trying so many times to make the bird say Catano, the man really got very angry. He could not bear it. He picked the parrot and threw it into the chicken house. There were four old chickens for next dinner “You are as stupid as the chickens. Just stay with them” Said the man angrily. Then he continued to humble; “You know, I will cut the chicken for my meal. Next it will be your turn, I will eat you too, stupid parrot”. After that he left the chicken house.

The next day, the man came back to the chicken house. He opened the door and was very surprised. He could not believe what he saw at the chicken house. There were three death chickens on the floor. At the moment, the parrot was standing proudly and screaming at the last old chicken; “Say Catano or I’ll kill you”

PANTUN, PUISI, SASTRA DALAM PERADABAN MELAYU

 
I. PANTUN
A. Pengertian pantun dan puisi
            Pantun adalah salah satu seni budaya melayu yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu kala. Hingga kini kebiasaan masyarakat melayu dalam penggunaan pantun memantun didalam kehidupan sehari-hari masih ada sebab budaya berpantun itu sudah mendarah daging dalam kehidupannya.[1]
            Pada dasarnya pantun terdiri dari terdiri atas 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.[2]
Contoh:
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
 
Sapu tangan penyapu tangan
Tiba ditangan penyapu bunga
Malang tangan celaka tangan
Tiba ditangan orang punya
 
                Pantun dapat digunakan disembarang tempat, dalam berbagai suasana atau dalam kegiatan apapun. Ketika sedih ataupun gembira orang dapat melantunkan pantun.
Seorang pejabat Negara dalam pidato resminya. Seorang khatib dalam khotbah keagamaannya, elok pula jika memasukkan pantun diantara ceramah agama yang disampaikan.
            Dengan demikian, pantun telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat melayu.[3]
B. Cara Menyampaikan Pantun
            Ada beberapa cara seseorang mengungkapkan isi hatinya lewat pantun. Ada pantun yang dijawab dengan pantun pula, cara ini disebut berbalas pantun.  Biasa diperlombakan sekolah anak-anak atau remaja melalui dendang langgam melayu yang dinyanyikan bergantian antara laki-laki dan perempuan dalam bentuk berbalas apapun. [4]
            Pantun dapat disampaikan dimana saja, kapan saja, dan dapat dibawakan oleh siapa saja. Pantun yang disampaikan tidak terikat oleh batasan usia, jenis kelamin, stratifikasi social dan lain sebagainya.[5]
            Pantun-pantun yang disampaikan menunjukkan cirri khas dalam melayu. Pantun-pantun yang disampaikan juga memperlihatkan atau menunjukkan kejeniusan dan kesempurnaan seni sastra peradaban bangsa melayu. Pantun juga menandung jiwa, seni, kebijaksanaan dan budi bahasa melayu itu sendiri.
C.Ragam-Ragam pantun[6]
1. pantun kanak-kanak
            Ketika masih bayi, pantun telah dikenalkan oleh orang tua melalui senandung yang dialunkannya ketika bayi dalam ayunan.
 
Contoh:
Dodoilah dodoi nak dodoilah sayang
Tidurlah anak dalam ayunan
Pejamkanlah mata anakku sayang
Ayahmu lah pergi nak mencari makan
           
Adapun  ketika anak masih bayi atau kecil ibu-ibu memanjakannya sambil melati anak untuk pandai bertepuk tangan dengan alunan pantun. Contoh:
Puk amai-amai
Belalang kupu-kupu
Bertepuk anak pandai
Diupah air susu
 
2. pantun bermain
            Ketika masih kanak-kanak ketika bermain dengan teman-teman sebaya juga sering sekali anak-anak mempergunakan pantun untuk menggerakkan permainan yang sedang mereka mainkan.
 
3. pantun remaja
            Penggunaan sastra pantun memantun jug sering digunakan oleh kaum remaja laki-laki dan perempuan. Contoh:
Pucuk pauh delima batu
Anak ssembilang ditapak tangan
Walaupun jauh dinegeri satu
Hilang dimata dihati jangan
 
4. pantun sugesti
            Untuk memperkuat rasa percaya diri terdapat pula mantra yang berbentuk pantun yang menurut orang melayu memiliki nilai sugesti kedalam jiwa, seperti pantun pemikat anak gadis.
 
Contoh:
Selasih diatas batu
Kursi dalam dulang
Kasih engkau kepada aku
Benci engkau kepada orang
 
5. pantun menyindir
            Pantun ini bisa disampaikan seseorang terhadap seseorang yang berkelakuan baik dan dijadikan panutan oleh masyarakat sekitar. Contoh:
Sayang cik dalang pergi ke daik
Hendak menangkap si anak kurau
Kalau sudah benih yang baik
Jatuh kelaut menjadi pulau
 
II. PUISI
            Puisi adalah karya sastra padat yang sangat hemat menggunakan kata-kata.kekuatannya terletak pada kata-kata yang dipilih, dengan prinsip sedikit kata banyak makna. Dengan kata lain, puisi dapat disimpulkan adalah karangan yang terikat oleh pemilihan diksi, rima, dan suku kata dalam bentuk dengan bentuk yang berangkap. Dengan kata lain, puisi mengandung pemikiran yang dalam dan keindahan dalam kata-katanya.
            Dalam masyarakat melayu, keindahan biasanya berkaitan dengan unsur kekaguman pada alam, yang bersifat oposisi biner (tinggi-randah), atau berbagai perasaan yang menjalani kehidupan (seperti suka-duka).
            Selain itu, keindahan puisi juga dipengaruhi kesamaan bunyi dalam bahasa itu sendiri.(seperti ubi dan budi ; talas dengan balas). Unsur alam dan persamaan dan pertentangan makna, pengalaman hidup dan kesamaan bunyi inilah yang membentuk konsep keindahan dimata orang melayu.
            Contoh-contoh berikut ini jelas menunjukkan pengaruh tersebut pada perkembangan puisi melayu lama, diantaranya: keindahan rambut perempuan dianalogikan seperti mayang terurai, dagunya bak lebah bergantung, dan matanya bagai bintang timur.
 
Pertumbuhan puisi mulai dari ungkapan dengan susunan kata dan makna yang sederhana, seperti ada ubi, ada talas, ada budi ada balas. Seiring perkembangannya, susunan kata dan makna estetisnya, semakin hari puisi itu diciptakan dan berkembang buka sekedar untuk hiburan, tapi juga sebagai alat pengajarandan alat berkomunikasi, baik secara umum maupun khusus utnuk ritual keagaaman dan upacara adat.
            Ada banyak puisi yang berkembang di masyakat melayu. Berdasarkan aspek keasliaannya, jenis puisi dapat dibagi dua, yaitu: puisi asli melayu dan yang berasala dari tradisi asing. Secara umum, gender puisi melayu asli adalah pantun, gurindam, seloka, mantra, teromba (puisi adat) dan pribahasa.sedangkan puisi melayu yang mendapat pengaruh asing adalah syair, nazam, rubai, ghazal, berzanji, dll.
            Berdasarkan bentuknya, ada puisi yang berbentuk bebas dan adapula yang terikat. Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat dengan rangkap, baris, jumlah, perkataan, suku kata, dan rima yang tetap.
Contoh: [7]
Puisi melayu ditahun 1965
Oleh: thomas hyde
 
Rajah dinegeri inggeriz perempuannya
Bermati dan rajah bergheraq hatinya
Telah men-dengar itu dan segalah
Ra’yatnya denghan dia jughah tatkalah
Didalam landarahamat cintah bernangis
Rahaj akan perempuannya men-nangis
Meriam bintang kedalam sur’gah cayah
Ampir malaikat bermumin bercayah
 
III. SASTRA MELAYU
Bentuk-bentuk Karya Sastra Melayu [8]
·               Gurindam Dua Belas
Kumpulan gurindam karya Raja Ali Haji, Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas sebab berisi 12 masalah, diantaranya tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.
·               Hikayat
Salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Seperti  Hikayat Hang Tuah.
·               Karmina
Populer disebut pantun kilat adalah pantun dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua langsung isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya dipakai untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
Contoh:
“Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula”
·               Seloka
Merupakan bentuk puisi Karya Sastra Melayu Klasik, berisi pepetah ataupun perumpamaan mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Lumrahnya ditulis empat baris menggunakan bentuk pantun atau syair, kadang kala bisa juga ditemukan pada seloka yang ditulis lebih dari empat-baris.
Misal: Anak pak dolah makan lepat makan lepat sambil melompat nak hantar kad raya dah tak sempat pakai sms pun ok wat ?
·               Syair
Bagian puisi atau karangan dalam bentuk terikat, mengutamakan irama sajak. Biasanya berbentuk 4 baris, bernada aaaa, keempat baris itu mengandung makna penyair.
·               Talibun
Sejenis puisi lama seperti pantun sebaba memiliki sampiran dan isi, tapi lebih dari 4-baris (bisa 6-20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, seterusnya.
Contoh:
Kalau anak pergi ke pecan Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanakpun cari Induk semang cari dahulu.
 
Keterkaitan antara, pantun, puisi, dan sastra melayu
Bagi orang Melayu, baik pantun, puisi, dan sastra  sudah mendarah daging. Mereka bukan sahaja arif menyemak makna yang terkandung di dalamnya, tetapi banyak pula yang mahir berpantun, berpuisi, dan sastra. Pada masa silam, ketiga seni ini memegang peranan penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai asas kemelayuan. Oleh sebab itu, pantun,puisi, dan sastra dijadikan media tunjuk ajar yang diwujudkan ke dalam beragam jenis kesenian daerah melayu.           

Sebenarnya didalam pantun, puisi, dan sastra itulah tersembunyi rahasia bahasa melayu. Melalui pantun, puisi, dan sastra melayu maka orang melayu dapat menyatakan tabiat, pikiran dan perasaan orang melayu. Ketiganya lahir dan berkembang ditanah kelahiran melayu yang kemudian turun-temurun diwariskan dari generasi kegenerasi.

pakaian adat melayu

SIMBOL-SIMBOL DALAM PAKAIAN ADAT ISTIADAT MELAYU
 
A. PAKAIAN ADAT MELAYU
Bagi orang melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh dari panas dan dingin, juga mengisyaratkan lambang-lambang. Lambang-lambang itu mewujudkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.
Dengan adanya lambang-lambang budaya yang tersematkan di pakaian melayu, maka kedudukan dan peran pakaian menjadi sangat penting dalam kehidupan orang melayu. Berbagai ketentuan adat mengatur bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, dan penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan itu di berlakuan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya.
Pakaian melayu dari ujung kaki sampai ujung melayu ada makna dan gunanya. Semua dikaitkan dengan norma sosial, agama, adat istiadat, sehingga pakaian berkembang dengan makna yang beraneka ragam. Pakaian melayu juga dikaitkan dengan fungsinya yaitu:
1.      pakaian sebagai penutup malu, yang berarti pakaian berfungsi sebagai alat penutup aurat, menutup aib dan malu dalam arti yang luas. Kalau salah memakai menimbulkan malu, kalau salah corak juga menimbulkan malu, oleh karena itu pakaian harus dibuat, ditata dan dikenakan sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku didalam masyarakat.
2.      pakaian sebagai penjemput budi, yang berarti pakaian berfungsi untuk membentuk budi pekerti, membentuk kepribadian, membentuk watak sehingga si pemakai tahu diri dan berakhlak mulia.
3.      Pakaian penjunjung adat, yang berarti pakaian harus mencerminkan nilai-nilai luhur yang terdapat didalam adat dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.
4.      Pakaian sebagai penolak bala, yang bermakna berpakaian dengan cara yang benar dan patut akan menghindarkan pemakainya dari mendapat bahaya atau malapetaka
5.      Pakaian menjunjung bangsa, yang berarti dengan bersepadunya lambang-lambang dan nilai-nilai yang tertera dipakaian maka terjemalah kepribadian bangsa atau masyarakat pemakainya. Pakaian dalam budaya melayu harus mampu menunjukkan jati diri pemakainya.
a. Pakaian Melayu Laki-Laki
            Pada kaum laki-laki terdapat tiga jenis pakaian melayu, yaitu:
1.      Baju melayu gunting cina, baju ini biasa digunakan dalam sehari-hari dirumah, bersifat santai untuk acara-acara tidak resmi. Bisa juga digunakan untuk menerima tamu dirumah atau pergi bertamu kerumah kerabat.
2.      Baju melayu cekak musang terdiri dari celana, kain, dan songkok atau tanjak. Bentuk baju ini berupa leher tidak berkerah dan berkancing hanya sebuah serta bagian depan leher baju berbelah kebawah sepanjang lebih kurang lima jari supaya mudah dimasukkan dari atas melalui kepala, berlengan lebar, serta berkocek sebuah dibagian atas kiri dan dua buah dibagian kiri dan kanan. Baju ini digunakan untuk acara keluarga seperti kenduri.
3.      Baju melayu teluk belanga, baju ini terdiri dari celana, kain sampin, dan penutup kepala atau songkok. Bentuk baju ialah leher berkerah dan berkancing ( berupa kancing tap, kancing emas atau permata dan lain-lain bergantung pada tingkat social dan kemampuan pemakai). Jumlah kancing yang lazim empat buah melambangkan “sahabat rasulullah” atau lima buah yang melambangkan “rukun islam”
 
b. Pakaian Melayu Perempuan
            Pada kaum perempuan terdapat dua jenis pakaian melayu, yaitu:
1.      Baju kurung, yang terdiri atas kain, baju dan selendang. Panjang atau kedalaman baju agak diatas lutut. Ada juga baju kurung untuk sehari-hari dirumah yang kedalamannya sepinggang atau sedikit dibawah pinggang. Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak melingkar dileher pemakai . bentuk baju berlengan panjang dan ukuran badan longgar, tidak boleh ketat. Bahannya bervariasi: polos, berbunga-bunga, dll.
2.      Baju kebaya labuh, yang terdiri dari kain, baju, dan selendang. Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelangan tangan sehingga gelang yang dikenakan perempuan kelihatan dan lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman bervariasi dari sampai betis atau sedikit keatas.Bagi perempuan dalam berpakaian dilengkapi dengan siput (sanggul) yang terdiri dari tiga macam yaitu,
·         Siput tegang. Biasanya digunakan untuk pengantin dan dikerjakan oleh Mak Andam.
·          Siput cekak. Biasanya digunakan untuk sehari-hari.
·          Siput lintang. Biasanya siput yang digunakan untuk perempuan yang berambut panjang, lebat, dan terjurai.
Sedangkan untuk tudung atau penutup kepala dipakai dengan dua cara, yaitu
·         Tudung digunakan untuk menutupi kepala dengan bagian yang agak terjurai  dan terjuntai kesamping pipi kiri dan kanan.
·         Tudung lingkup. Pemakaiannya mirip dengan cadar yang dipakai oleh wanita arab, yakni yang kelihatan hanya mata atau sekurang-kurangnya hanya terlihat wajah.
 
B. SIMBOL DALAM PAKAIAN MELAYU
            Setiap simbol mengandung makna tertentu “ada benda ada maknanya, ada cara ada artinya, dan ada letak ada sifatnya”. Begitu pula dalam pakaian melayu yang memiliki simbol dalam pakaian yang dikenakan orang melayu.
1. Motif
Dilihat dari carak atau motifnya pakaian melayu memiliki simbol dan makna tertentu:
·         Corak semut beriring. Corak ini dikaitkan dengan makna yang mengacu pada sifat kerukunan dan gotong royong.
·         Corak itik pulang. Corak ini dikaitkan dengan dengan kerukunan dan persatuan, tidak terpecah belah.
·         Corak naga berjuang. Corak ini dihubungkan dengan legenda tentang tentang naga sebagai penguasa lautan, gagah berani, dan pejuang.
·         Corak bunga-bunga. corak ini dikaitkan dengan keindahan, kecantikan, dan kesucian.
2. Warna
Simbol dalam bentuk warna mengatur hal-hal berikut:
·         Kuning. Digunakan untuk raja-raja dan bangsawan sebagai lambang kekuasaan
·         Merah. Digunakan untuk masyarakat secara umum sebagai lambang kerakyatan.
·         Hijau dan putih. Digunakan untuk alim ulama sebagai lambang agama islam
·         Biru. Digunakan untuk orang besar kerajaan sebagai lambang orang patut-patut.
·         Hitam. Digunakan pemangku dan pemuka adat sebagai lambang “hidup dikandung adat, mati dikandung tanah”. Warna hitam juga dipakai sebagai warna kebesaran hulubalang atau panglima.
 
3.   Cara Memakai Pakaian
Lambang juga ditempatkan pada cara memakai pakaian melayu. Yaitu:
a.    Bagi Perempuan
·      Bagi anak gadis harus memakai kepala kainnya didepan.
·      Bagi orang perempuan tua memakai kepala kainnya disamping kanan.
·      Perempuan yang bersuami, tapi belum tua memakai kepala kainnya dibelakang
·      Bagi yang janda, memakai kepala kainnya disebelah kiri.
 
b.   Bagi laki-laki
·         Bagi raja, kepala kainnya boleh ditempatkan dimana saja (bebas) tapi lazimnya sebelah belakang berat kedepan.
·         Bagi kaum bangsawan, kepala kainnya sebelah belakang berat kekanan.
·         Bagi orang besar kerajaan, kepala kainnya sebelah belakang berat kekiri.
·         Bagi putra mahkota (putra raja), kepala kainnya sebelah kanan berat kedepan.
·         Bagi datuk-datuk, kepala kainnya sebelah kiri berat kedepan.
·         Bagi orang awam, kepala kainnya dibelakang penuh.
Untuk pengaturan cara menempatkan kedalaman kain sampin, yaitu:
·         Bagi orang patut-patut kedalaman kainnya sedikit dibawah lutut
·         Bagi orang muda-muda dan hulubalang kedalaman kainnya sedikit diatas lutut
·         Bagi orang awam kedalaman kainnya labuh kebawah
 
Pada akhirnya, simbol-simbol dalam pakaian orang melayu dapat:
1.         Menunjukkan identitas orang melayu itu sendiri
2.         Mencerminkan status seseorang seperti raja, hulubalang, rakyat biasa, dll
3.         Mencerminkan jati diri dan kepribadian orang melayu
4.         Sebagai simbol atau lambang keluhuruan seluruh masyarakat yang menunjukkan nilai-nilai sebagai manusia yang berperadaban.
5.         Dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur agama islam.
6.         Merupakan salah satu keagungan budaya melayu
7.         Merupakan puncak kebudayaan melayu yang dapat kita saksikan sekarang ini.